Selamat Datang Di Situs Resmi PARFI SUMBAR (Persatuan Artis Film Indonesia Sumatera Barat)

Soekarno M. Noer

Written By ParfiSumbar on Kamis, 08 November 2012 | 11.12

Soekarno M Noer.jpg

Soekarno M. Noer

Lahir
13 September 1931
Meninggal
26 Juli 1986 (umur 54)
Bendera Indonesia Indonesia
Pekerjaan
Aktor
Tahun aktif
1960 - 1986
Soekarno M. Noer (lahir di Jatinegara, Jakarta, 13 September 1931 – meninggal 26 Juli 1986 pada umur 54 tahun) yang bernama lain Soekarno M. Noor adalah seorang aktor asal Indonesia.

Asal usul

Soekarno M. Noer lahir dari pasangan Mohammad Noer dan Janimah asal Bonjol, Sumatera Barat.Ketika usia dua tahun, dia menjadi anak yatim.Setelah wafatnya ayah, bersama ibu dan adiknya Soekarno pulang kampung ke Bonjol terus berpindah ke Tebing Tinggi, Sumatera Utara.

Karier

Selama kariernya ia telah membintangi lebih dari 68 judul film sebagai pemeran utama, sekitar 30 judul film sebagai pemeran figuran, dan 20 judul drama. Pria Minangkabau ini tiga kali terpilih sebagai Aktor Terbaik dalam Festival Film Indonesia (Piala Citra), masing-masing dalam film Anakku Sajang (1960), Dibalik Tjahaja Gemerlapan (1967), dan Kemelut Hidup (1979).
Dari pernikahannya dengan Lily Istiarti, ia memperoleh enam orang anak yang beberapa di antaranya mengikuti jejaknya sebagai aktor, termasuk Tino Karno, Rano Karno, dan Suti Karno. Selain itu juga diikuti oleh adiknya Ismet M. Noer yang juga menjadi aktor di tahun 1970an.

Organisasi

  • Ketua I PB Parfi (1972-1974)
  • Ketua Umum PB Parfi, dua periode (1974-1978)
Sumber: id.wikipedia.org

Laila Sari

Laila sari.jpg

Emak Laila Artis Serba Bisa Yang Terus Berjuang Di Usia Senja

Laila Sari

Lahir
4 November 1935 (umur 76)
Bendera Belanda Padang Panjang, Hindia Belanda
Kebangsaan Bendera Indonesia Indonesia
Pekerjaan
aktris
Tahun aktif
1955 - sekarang
Laila Sari (lahir di Padang Panjang, Sumatera Barat, 4 November 1935; umur 76 tahun) adalah aktris dan penyanyi Indonesia.

Karier

Ia mengawali karier sebagai pemain sandiwara dan penyanyi. kariernya dilanjutkan dengan bermain dalam film layar lebar. Ia juga bermain dalam sejumlah sinetron, ketika film layar lebar mengalami kemunduran.

Kehidupan Pribadi

Selama tiga zaman atau enam dekade lebih, Laila Sari telah berkecimpung di panggung hiburan Tanah Air. Namun, nenek berusia 76 tahun itu kini kondisi hidupnya amatlah memprihatinkan.Belum lama ini Detikhot menyambangi Emak Laila, begitu sapaan akrabnya, di rumahnya yang sederhana di Tangkiwood, Jakarta Barat. Daerah itu dulu memang dikenal sebagai penghasil artis berbakat di eranya. Sebut saja Aminah Cendrakasih dan (alm) Bing Slamet.
Untuk menuju rumah artis serba bisa itu, harus melalui gang-gang sempit di tengah padatnya pasar dan rumah penduduk yang lebarnya tak lebih dari dua kali lebar setir motor. Akibatnya, saat berpapasan dengan motor lain, salah satunya harus berhenti dan mengalah.Pemandangan memprihatinkan pun tergambar jelas setibanya di sana. Rumah Laila tampak tak terawat, cat temboknya sudah memudar serta ubin lantainya kusam. Asbes atap rumahnya pun di beberapa sudut terlihat kecokelatan terkena rembesan air hujan.
Perempuan kelahiran Padang Panjang, Sumatera Barat 4 November 1935 itu dengan ramah menyambut kedatangan Detikhot. "Mari, masuk ke rumah emak. Maaf ya rumah emak begini adanya, kotor. Silakan duduk!" sambut pemilik nama asli Nurlaila itu.
Laila yang mengenakan kerudung putih itu pun mulai menceritakan kesehariannya saat ini. Di dalam rumah tersebut ia mengaku tinggal bersama tujuh orang anggota keluarga yang masih jadi tanggungannya.
"Aku sekarang apa-apa sendiri. Aku di sini ada 7 orang dan 8 sama aku. Aku jadi kakek, nenek, bapak dan jadi ibu di rumah ini. Sekarang tugas aku berjuang mencari uang untuk mereka," papar bintang film 'Kembang Katjang', 'Perantaian 13', 'Konde Tjioda', 'Burung Merpati', 'Dinamika', 'Pertiwi' dan 'Peristiwa 10 Nopember' itu.
"Mereka itu keponakan, saudara dan anak dari cucu aku. Cucu aku meninggal dan meninggalkan satu anak. Jadi aku yang rawat. Ada anak aku juga, walaupun aku sih nggak pernah melahirkan, tapi aku udah menganggap dia kayak anak sendiri," sambungnya merinci.
"Aku kalau sudah batuk memang payah sekali. Suka nggak tahan saking sakitnya. Kalau kondisi aku lagi nggak fit dan batuk-batuk bisa sampai pingsan, kayak waktu itu aku pernah. Beginilah namanya sudah tua," katanya sambil mengurut dadanya.

Filmografi

Sumber : id.wikipedia.org

Leily Sagita

Leli sagita 002.jpg
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Leily Sagita

Nama lahir Zurleily Sagita
Nama lain Leily Sagita
Lahir 19 Desember 1952 (umur 59)
Bendera Indonesia Lubuk Alung, Indonesia
Pekerjaan aktris
Zurleily Sagita atau yang lebih dikenal dengan nama Leily Sagita (lahir di Lubuk Alung, Padang Pariaman, Sumatera Barat, 19 Desember 1952; umur 59 tahun) adalah pemain film dan sinetron Indonesia. Dia dikenal karena sering memerankan tokoh antagonis dalam setiap sinetronnya. Ia juga sudah mebintangi puluhan judul film dan puluhan sinetron. Perannya sebagai Yona dalam sinetron ratusan episode Tersanjung turut melambungkan namanya.

Filmografi

Sinetron

Mathias Muchus

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas.
Mathias Muchus
Mathias muchus 008.jpg
Lahir 15 Februari 1957 (umur 55)
Bendera Indonesia Pagar Alam, Indonesia
Pekerjaan aktor
Pasangan Mira Lesmana
Mathias Muchus (lahir di Pagar Alam, Sumatera Selatan, 15 Februari 1957; umur 55 tahun) adalah seorang aktor senior Indonesia. Mathias Muchus memiliki darah Minangkabau dari ayahnya yang berasal Solok Sumatera Barat. Sang ayah telah lama bermukim di kota Pagar Alam sebagai wiraniaga. Namun bakat wiraniaga ternyata tidak turun kepadanya, karena ia lebih tertarik pada dunia seni. Karena itulah selepas SMA di Pagar Alam, ia memutuskan merantau ke Jakarta demi mewujudkan impiannya.
Di Jakarta, ia melanjutkan sekolah pada Jurusan Teater di Institut Kesenian Jakarta hingga selesai. Saat masih kuliah ia telah banyak terlibat dalam seni peran di panggung yang diadakan oleh almamaternya. Bakat aktingnya ditemukan oleh Penulis Script Tatiek Maliyati yang saat itu sedang membantu suaminya sutradara Wahyu Sihombing membuat sinetron "Losmen" di TVRI pada awal 1980an. Tatiek W Maliyati yang juga dosen pengajar di IKJ merekomendasikannya bermain dalam sinetron tersebut. Di sana Mathias Muchus beradu akting dengan para artis senior seperti Mieke Wijaya, Mang Udel, dan juga penyanyi populer Dewi Yul. Sinetron tersebut juga ikut mempopulerkan nama artis Eeng Saptahadi dan Ida Leman.
Bekal kepopulerannya di layar kaca ini, kemudian menjadi modal kuat Mathias Muchus dalam berakting di layar lebar. Berbagai sutradara kawakan pun melibatkannya dalam film-film garapan mereka. Sejak itu nama Mathias Muchus seolah tak terbendung kepopulerannya sebagai aktor layar lebar di Indonesia. Puncak prestasinya adalah meraih beberapa kali penghargaan aktor terbaik Festival Film Indonesia (FFI), disamping beberapa kali menjadi nominasi aktor terbaik FFI.
Selain terkenal dengan perannya sebagai Tarjo dalam sinetron "Losmen" di TVRI pada tahun 1980-an itu, dia pernah meraih Piala Citra pada Festival Film Indonesia pada tahun 1988 sebagai aktor terbaik di film "Istana Kecantikan".
Seiring berkembangnya dunia sinetron di pertelevisian nasional Indonesia, Mathias Muchus pun kembali banyak terlibat di dalamnya baik sebagai aktor pemeran utama maupun pemeran pembantu. Tercatat beberapa kali menjadi nominator dalam ajang penghargaan yang diadakan khusus untuk sinema elektronik ini.
Mathias Muchus menikah dengan Mira Lesmana, produser film Indonesia yang merupakan putri dari tokoh Jazz Indonesia Jack Lesmana dan ipar dari Indra Lesmana, musikus jazz ternama di Indonesia.

Filmografi

Sebagai pemeran

Sebagai sutradara

Sinetron

Prestasi

  • Aktor Terbaik FFI 1988 (Istana Kecantikan)
  • Aktor Terpuji (Sinetron) Festival Film Bandung 2007
  • Aktor Pendukung Terbaik FFI 2011 (Pengejar Angin)
  • Nominasi Aktor Terbaik FFI 1986 (Beri Aku Waktu)
  • Nominasi Aktor Terbaik FFI 1991 (Cintaku di Way Kambas)
  • Nominasi Aktor Pendukung Terbaik FFI 2006 (Denias)
  • Nominasi Aktor Terbaik Piala Vidia 2004 (Taxi Blues)
  • Nominasi Aktor Terbaik Piala Vidia 2006 (Ayahku Astuti)
  • Nominasi Aktor Terbaik Indonesian Movie Award 2010 (Queen Bee)  
Sumber : id.wikipedia.org

Sumbar Akan Buat Film Kepahlawanan Perjuangan Siti Manggopoh

Padang, (ANTARA) - Dinas Pariwisata, Seni dan Budaya Sumatera Barat, menjadwalkan membuat film kepahlawanan terkait sosok perjuangan tokoh perempuan asal Minangkabau yakni, Siti Manggopoh, pada masa melawan penjajahan Belanda di Indonesia.

"Mengangkat sosok Siti Manggopoh, satu bentuk bukti kemandirian perjuangan perempuan Minangkabau dalam melawan penjajahan Belanda di Indonesia," kata Kepala Dinas Pariwisata, Seni dan Budaya Sumbar, James Hallyward, di Padang, Sabtu.

Siti Mangopoh, pejuang wanita dari desa kecil terpencil di Kabupaten Agam, Sumatra Barat. Ia lahir bulan Mei 1880, dan dikenal melakukan perlawanan cukup gigih menentang terkait kebijakan ekonomi kaum penjajah Belanda melalui pajak uang pada tahun 1908.

Gerakan rakyat untuk menolak kebijakan itu, di Manggopoh dikenal sebutan "Perang Belasting".

Peraturan belasting dianggap bertentangan dengan adat Minangkabau. Sebab, tanah adalah kepunyaan komunal atau kaum di Minangkabau.

Peristiwa yang tidak bisa dilupakan penjajah saat itu, yakni gerakan dilakukan Siti Manggopoh pada tanggal 16 Juni 1908.

Belanda saat itu, cukup kewalahan menghadapi tokoh perempuan Minangkabau, sehingga meminta bantuan kepada tentara Belanda yang berada di luar menuju ke Nagari (desa) Manggopoh.

Menurut James, dipilihnya perjuangan Siti Manggopoh dalam pembuatan film kepahlawanan, guna mengakat derajat kaum perempuan, khusus Minangkabau dan umumnya di tanah air.

Dalam perjuangan menuju kemerdekaan, peran perempuan melawan kaum penjajahan cukup dominan, dan ini perlu diangkat ke permukaan supaya bisa diwariskan ke generasi mendatang, katanya.

"Kita memilih sosok pejuang perempuan (Siti Manggopoh), karena menunjukkan sosok seorang perempuan yang fenomenal dari Minangkabau, dan ini perlu diketahui generasi muda," katanya.

Rencana pembuatan film kepahlawan itu, juga menyikapi himbauan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata (Menbudpar RI), kata James dan menambahkan, walaupun hingga kini instruksi secara tertulis belum diterima dari Menbudpar.

Rencana pembuatan film kepahlawanan perjuangan Siti Manggopoh bisa saja dimulai tahun depan, dan diharapkan biayanya masuk anggaran APBD tahun depan.

Sebelumnya Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, Jero Wacik, menghimbau seluruh gubernur di Indonesia untuk membuat film kepahlawanan di daerah masing-masing.

"Film kepahlawanan itu menekankan unsur pendidikan, dengan harapan cita-cita dalam pembangunan bangsa dan negara dapat diteruskan generasi mendatang," kata Menbudpar, Jero Wacik belum lama ini.
Sumber:www.antara-sumbar.com

About

Persatuan Artis Film Indonesia Sumatera Barat adalah organisasi perkumpulan artis untuk daerah tingkat I Sumatera Barat.Untuk periode 2012-2016 PARFI SUMBAR diketua oleh Salwin Anwar Tiroy yang sebelumnya menjabat sekretaris.